Modernisasi ternyata tidak selalu menguntungkan bagi kesehatan. Telah terbukti bahwa segala kemudahan teknologi menyebabkan manusia malas bergerak, sehingga mudah terjadi penumpukan lemak yang berdampak kepada berbagai penyakit.
Meningkatnya daya beli memudahkan akses terhadap berbagai menu makanan mewah yang justru tinggi lemak, protein, gula, dan garam yang menimbulkan berbagai penyakit degeneratif.
Tubuh kita merupakan refleksi nyata dari apa yang kita makan. Dengan makanan sehat, dihasilkan tubuh yang sehat pula.
Telah terbukti, makanan yang dihasilkan melalui cara bertani tradisional (alami) mengandung nilai gizi, rasa, dan tingkat keamanan yang jauh lebih baik daripada pola pertanian modern yang banyak menggunakan senyawa-senyawa kimia.
Berdasarkan pandangan itu, di seluruh dunia saat ini marak terjadi kecendrungan memilih bahan makanan organik (organic foods). Perkembangan pertanian sebagai penyedia bahan makanan organik dipicu oleh gerakan gaya hidup sehat back to basic.
Gerakan ini mengampanyekan sistem bertani dengan bibit lokal serta pupuk dan pengendalian hama yang alami.
Di luar negeri, semakin banyak produk sayur dan buah-buahan segar, bahkan breakfast cereals dan pasta berlabel organik. Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) sejak tahun 1998 mengusulkan rancangan undang-undang agar semua makanan organik yang dijual di AS harus mendapatkan sertifikat organik (organic certificate) yang dikeluarkan departemen tersebut.

RUU itu menyebutkan, bahan makanan organik diproduksi dengan menggunakan minimal 50 persen bahan-bahan organik. Untuk makanan olahan, paling sedikit 95 persen ingridiennya harus diproduksi secara organik. makanan olahan juga harus bebas dari penggunaan nitrat, nitrit, atau sulfit.
Organic foods sebenarnya adalah ungkapan salah kaprah. Semua makanan (nabati maupun hewani) berasal dari makhluk hidup dan mengandung unsur karbon di dalamnya sehingga pantas disebut bahan makanan organik.
Istilah yang lebih pas adalah organically grown (ditumbuhkan dengan bahan-bahan organik) atau organically produced (diproduksi dari bahan-bahan organik). Walau demikian, istilah bahan makanan organik tampaknya sudah diadopsi dunia.

makanan organik adalah semua bahan makanan yang diproduksi dengan sedikit mungkin atau bebas sama sekali dari unsur-unsur kimia (pupuk, peptisida, hormon, dan obat-obatan). Pupuk misalnya, berasal dari alam berupa kotoran hewan dan kompos. Untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman, digunakan musuh atau bahan baku alami.
Pengertian makanan organik yang kemudian lebih luas adalah memenuhi pedoman persyaratan internasional yang ditentukan, misalnya tidak menggunakan bibit GMO (genetic modified organism) dan teknologi iradiasi untuk mengawetkan produk. Dengan demikian semua proses produksi dilakukan secara alami, dari budi daya hingga pengolahannya (from the form to the table).
makanan organik
Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan amat perlu bila kita ingin hidup sehat, karena bahan-bahan itu merupakan pabrik vitamin, mineral, antioksidan, dan serat makanan. Vitamin yang banyak terdapat pada sayur organik dan buah organik adalah vitamin C dan vitamin B kompleks. Beberapa sayuran juga jadi sumber vitamin A,D, dan E.
Karotenoid (prekursor vitamin A), vitamin C, dan vitamin E merupakan antioksidan alami yang berguna melawan serangan radikal bebas penyebab penuaan dini dan berbagai jenis kanker.
Mineral yang banyak terdapat pada sayur dan buah adalah zat besi, seng, mangan, kalsium, dan fosfor.
Dibandingkan dengan sumber serat lain, sayur dan buah merupakan sumber paling baik dan utama.
Serat bermanfaat mencegah berbagai penyakit, seperti kanker usus besar, aterosklerosis, gangguan jantung, diabetes melitus, dan penyakit batu empedu.
Sayangnya, kesadaran petani Indonesia akan kecendrungan makanan organik ini masih rendah. Penyemprotan pestisida yang berlebih dan tidak mengikuti standar—misalnya menyemprot sebelum panen—membuat beberapa hasil penelitian menunjukkan, masih banyak produk pertanian Indonesia yang mengandung residu pestisida di atas batas maksimum.
Masih tingginya kadar pestisida pada berbagai produk pertanian Indonesia sangatlah menyedihkan, karena menjadi sulit dipasarkan ke pasar mancanegara. Padahal, ke depan, semua produk pertanian harus mendapatkan sertifikat makanan organik, dan pangsa pasarnya dalam sepuluh tahun mendatang diperkirakan mencapai 100 milyar dollar AS per tahun.
Daging organik
Berbagai penyakit yang muncul akibat daging yang terkontaminasi membuat orang butuh daging organik, yaitu daging yang diperoleh dari hewan ternak yang dipelihara dengan pemberian ransum makanan (pakan) alami dari sumber-sumber nabati, seperti rumput,dedak, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
Proses pemeliharaannya pun tidak menggunakan hormon-hormon pertumbuhan, misalnya hormon penggemukan.
Praktik pemeliharaan ternak yang keliru—menggunakan bahan-bahan hewani berprotein tinggi dan hormon-hormon pertumbuhan—terbukti berdampak buruk. Pemberian pakan yang melawan kodrat, hewan herbivora diberi konsentrat sisa daging ternak sehingga menjadi karnivora, membuat ternak menjadi rentan terhadap serangan berbagai jenis penyakit.
Di antaranya adalah penyakit sapi gila (mad cow disease) serta penyakit mulut dan kuku.
Berjangkitnya berbagai penyakit yang berasal dari konsumsi daging mendorong konsumen lebih selektif memilih daging. Pemerintah Indonesiapun beberapa kali membatalkan impor daging dari negara-negara yang endemik penyakit sapi gila serta penyakit mulut dan kuku. Tak heran bila ke depan tuntutan daging organik semakin besar.
Walaupun untuk sementara harga makanan organik menjadi lebih mahal dibandingkan makanan biasa, konsumen tampaknya akan berbondong-bondong memilih makanan organik, dengan alasan keamanan. Hasil survei di Eropa tahun 1998 menunjukkan, mereka lebih memilih makanan organik dengan alasan lebih enak, lebih sehat, dan lebih aman.
makanan organik juga lebih ramah lingkungan, karena bebas dari penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang dapat merusak struktur tanah serta mencemari air dan udara di sekitarnya.
Dalam jangka panjang, harga makanan organik akhirnya menjadi lebih murah karena biaya produksi menurun. Semua itu akan berdampak pada m,eningkatnya taraf kesehatan, usia harapan hidup, dan tentu saja produktivitas kerja. Negara juga menghemat devisa yang selama ini digunakan untuk membeli pupuk dan pestisida kimiawi.
Sumber: Dr. Ir. Made Astawan, dosen Jurusan Teknologi makanan dan Gizi-IPB, Kompas, 27 Desember 2001


















